Kota Banjar, katajurnalis.com.
Dukung upaya pemerintah Indonesia untuk eliminasi tuberkulosis (TB) pada tahun 2030, Dinas Kesehatan Kota Banjar kini membuka layanan Rontgen gratis dengan sasaran warga yang kontak erat dengan penderita TB, anak kurang gizi dan penderita Diabetes Melitus (DM). Pelayanan dibuka sejak bulan Juli hingga November 2026 mendatang.
Bagi warga yang ingin periksa Kesehatan dengan Rontgen bisa mendatangi kantor Kelurahan dan Desa atau di Puskesmas terdekat. Warga cukup membawa syarat KTP dan Kartu Keluarga saja.
“Sejak awal Juli ini kami melakukan pelacakan terhadap penderita TB termasuk mereka yang kontak erat dengan penderitanya,” kata Saifuddin, Kepala Dinas Kesehatan Kota Banjar kepada katajurnalis.com, Minggu (19/7/2026).
Saifuddin menyebut sasaran layanan ini akan digelar di 150 lokasi dengan jumlah 100 orang di setiap lokasinya. Nantinya Dinkes Kota Banjar melibatkan ratusan petugas dari RS Asih Husada dan dari petugas di 10 Puskesmas.
“indikatornya adalah semakin ditemukan kasus TB berarti pelacakan kita berjalan baik,” tambah Saefuddin.
Ia menambahkan meski TB bisa menular namun hal tersebut bisa diantisipasi penularannya dan bisa diobati. Sementara hingga tahun 2026 ini, penderita TB hampir merata di semua kecamatan di Kota Banjar. Saifuddin berharap Kota Banjar bisa terbebas dari penderita TB sebelum tahun 2030 mendatang.
“Eliminisai TB ini merupakan program pemerintah dan harapan kami warga yang mengidap TB bisa segera ditemukan sebanyak mungkin untuk segera disembuhkan agar kota banjar terbebas dari TB sebelum 2030,” tandas Saefuddin.
Program Indonesia Eliminasi Tuberkulosis (TB) 2030 ditargetkan melalui Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2021. Target utamanya adalah menurunkan insiden kasus TB menjadi 65 per 100.000 penduduk dan menekan angka kematian akibat TB hingga 6 per 100.000 penduduk.
Program ini berfokus pada penguatan respons nasional terhadap epidemi TB di empat provinsi dengan beban TB tinggi, yaitu Sumatra Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
Untuk mencapai target tersebut, pemerintah menerapkan empat strategi utama yakni :
- Promotif dan Preventif: Skrining aktif secara masif di berbagai daerah dan pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) bagi kontak erat pasien.
- Peningkatan Akses Diagnosis: Penggunaan alat tes cepat molekuler (TCM) dan mobile X-ray untuk deteksi dini secara merata di seluruh fasilitas kesehatan.
- Pengobatan Komprehensif: Memastikan pasien menyelesaikan masa pengobatan (hingga sembuh) untuk mencegah resistensi obat.
- Pengembangan Vaksin: Pemerintah saat ini tengah mengembangkan tiga jenis vaksin TBC baru sebagai langkah pencegahan jangka panjang.
Aditya TW






