Kata Berita

Hujan Ekstrem Rusak Bronjong Sungai Ciputrahaji, BBWS Citanduy Lakukan Evaluasi

×

Hujan Ekstrem Rusak Bronjong Sungai Ciputrahaji, BBWS Citanduy Lakukan Evaluasi

Sebarkan artikel ini

Ciamis, Katajurnalis.com

Hujan dengan intensitas tinggi pada pertengahan Februari 2026 menyebabkan kenaikan debit dan muka air Sungai Ciputrahaji di Kabupaten Ciamis. Kondisi tersebut memicu kerusakan pada bangunan pengaman tebing berupa pasangan bronjong yang mengalami pergeseran dan deformasi.

Humas Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citanduy, Rahmat, mengatakan curah hujan tinggi tercatat di sejumlah pos pengamatan. Di Pos Sidamulih, hujan pada 9 Februari 2026 mencapai 107,5 milimeter per hari atau kategori sangat lebat, lalu 54,5 milimeter per hari pada 10 Februari dengan kategori lebat.

“Pada 13 Februari, hujan kembali terjadi sepanjang hari dengan intensitas 53 milimeter per hari. Sementara itu, di Pos Cikupa, hujan pada 9 Februari tercatat 63,5 milimeter per hari dan 43,2 milimeter per hari pada 13 Februari, keduanya masuk kategori lebat,” ujarnya.

Akibat tingginya curah hujan, kata dia, Sungai Ciputrahaji meluap dan menimbulkan genangan di sekitar area konstruksi. Kondisi ini berdampak pada stabilitas pasangan bronjong yang telah terpasang di lokasi pekerjaan.

Baca Juga  Cetak Sejarah, BBWS Citanduy Gelar Upacara Bendera HUT RI ke 79 di Bendungan Leuwikeris

“Berdasarkan peninjauan tim teknis di lapangan, ditemukan sejumlah kerusakan, antara lain pergeseran bronjong ke arah hilir, kemiringan struktur, indikasi gerusan tanah dasar di bagian kaki bronjong, serta penurunan pasangan bronjong sepanjang sekitar 16 meter,” jelasnya.

Selain itu, Rahmat menyebutkan terdapat perubahan elevasi dan ketidakstabilan pada segmen terdampak, disertai indikasi erosi dan pelunakan tanah di area dasar konstruksi. Secara teknis, kerusakan diduga dipicu kombinasi faktor hidrologi, geoteknik, dan gaya hidrodinamis.

“Curah hujan ekstrem menyebabkan infiltrasi air ke lapisan tanah dasar sehingga meningkatkan tekanan air pori dan menurunkan daya dukung tanah. Aliran permukaan yang deras juga memicu gerusan pada kaki konstruksi,” ungkap Rahmat.

Menurutnya, dari sisi geoteknik, tanah dasar di lokasi dinilai memiliki daya dukung relatif rendah. Kondisi ini diperparah oleh penurunan diferensial pada area terdampak.

“Peningkatan debit aliran turut menambah gaya dorong horizontal, tekanan air di belakang struktur, serta gaya angkat pada dasar bronjong,” jelasnya.

Rahmat menyebutkan kejadian ini dipengaruhi faktor eksternal berupa cuaca ekstrem yang berada di luar kondisi normal perencanaan teknis. Ia menambahkan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memprediksi cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi hingga Maret 2026.

Baca Juga  Proyek Desa Rejasari Dikeluhkan Warga, Inspektorat Diminta Bertindak

Hujan lebat yang disertai kilat dan angin kencang dapat meningkatkan risiko banjir, genangan, dan longsor di sejumlah wilayah rawan,” kata dia.

Saat ini, BBWS Citanduy melakukan langkah penanganan awal dan evaluasi lanjutan guna menentukan metode perbaikan yang tepat serta mengantisipasi kejadian serupa di masa mendatang.

Cucu Agus Lesmana – DRY