Ciamis, Katajurnalis.com.
Proyek bronjong penahan tebing di bawah Jembatan JJ, Desa Sindangsari, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis, kembali ambrol meski belum lama rampung dikerjakan. Infrastruktur yang berfungsi memperkuat tebing dan melindungi konstruksi jembatan itu rusak setelah diterjang derasnya arus Sungai Ciputerahaji.
Peristiwa ambrolnya bronjong terjadi pada Sabtu sore, 14 Februari 2026, setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur kawasan tersebut sejak siang. Curah hujan yang tinggi memicu peningkatan debit Sungai Ciputerahaji hingga meluap dan menyeret material bronjong yang dipasang di bawah jembatan.
Ketua RT setempat, Aris, membenarkan kejadian tersebut. Ia mengatakan bronjong yang jebol itu baru berusia beberapa bulan sejak selesai dibangun.
“Kejadiannya Sabtu sore saat hujan deras dan arus Sungai Ciputerahaji meluap. Tiba-tiba bronjongnya tidak kuat menahan arus dan akhirnya ambrol,” ujar Aris saat ditemui, Minggu, 15 Februari 2026.
Menurut dia, proyek bronjong tersebut dibangun sekitar akhir November 2025. Dengan usia yang relatif singkat, kerusakan yang terjadi menimbulkan tanda tanya di tengah masyarakat terkait kualitas konstruksi dan kekuatan pondasi.
“Kalau tidak salah, dibangunnya akhir November 2025. Artinya masih sangat baru, belum ada tiga bulan, tapi sekarang sudah rusak lagi. Kami tentu sangat menyayangkan,” kata Aris.
Sejumlah warga menduga pondasi bronjong kurang kokoh sehingga tidak mampu menahan tekanan arus sungai saat debit air meningkat. Padahal, keberadaan bronjong dinilai vital untuk menjaga stabilitas Jembatan JJ.
Jembatan tersebut merupakan akses utama penghubung Desa Sindangsari, Kecamatan Banjarsari, dengan Desa Sukamukti, Kecamatan Pamarican. Setiap hari, jembatan ini dilalui warga untuk aktivitas ekonomi, pendidikan, hingga distribusi hasil pertanian.
Kondisi terkini memunculkan kekhawatiran di kalangan warga. Jika abrasi terus terjadi dan tidak segera ditangani, kerusakan dikhawatirkan merembet ke pondasi utama jembatan dan berpotensi mengganggu bahkan memutus akses transportasi antarwilayah.
Warga berharap pihak pelaksana proyek maupun dinas terkait segera melakukan evaluasi menyeluruh serta perbaikan permanen. Mereka meminta pembangunan ulang dengan konstruksi yang lebih kuat dan tahan terhadap luapan arus sungai agar kejadian serupa tidak terulang.
Cucu Agus Lesmana – DRY






