Kata Pendidikan

Ketika Figur Teladan Terseret Isu, Pendidikan Moral di Banjar Jadi Sorotan

×

Ketika Figur Teladan Terseret Isu, Pendidikan Moral di Banjar Jadi Sorotan

Sebarkan artikel ini
Ketika Figur Teladan Terseret Isu, Pendidikan Moral di Banjar Jadi Sorotan. Foto: Ilustrasi Chatpgt.com/KJ

Banjar, Katajurnalis.com.

Dunia pendidikan di Kota Banjar menghadapi sorotan publik setelah mencuat isu dugaan hubungan tidak patut yang melibatkan seorang oknum kepala sekolah berinisial I dan oknum guru agama berinisial T di salah satu SMP negeri. Hingga kini belum ada pernyataan resmi yang membenarkan kabar tersebut. Namun polemik yang berkembang telah memantik diskursus luas tentang konsistensi pendidikan moral di lingkungan sekolah.

Isu ini tak semata menyentuh ranah personal. Perbincangan publik bergerak lebih jauh, mempertanyakan bagaimana masa depan pendidikan karakter apabila figur sentral di sekolah justru terseret dugaan pelanggaran etika.

Pendidikan Moral di Persimpangan

Dalam sistem pendidikan nasional, sekolah bukan sekadar ruang transfer pengetahuan akademik. Ia merupakan arena pembentukan karakter, integritas, dan nilai-nilai moral. Kepala sekolah dan guru, terutama guru agama, memiliki posisi strategis sebagai teladan.

Secara sosiologis, relasi antara pendidik dan peserta didik melampaui hubungan formal-institusional. Di dalamnya terkandung dimensi keteladanan. Ketika figur yang seharusnya menjadi contoh terseret isu yang berpotensi mencederai norma sosial dan agama, legitimasi moral lembaga pendidikan turut dipertaruhkan.

Aktivis dan pemerhati sosial, Irwan Herwanto, S.IP, yang juga menjabat Ketua SAPMA Pemuda Pancasila Kota Banjar, menilai jika dugaan tersebut terbukti melalui proses resmi, maka persoalan ini menjadi alarm keras bagi sistem pendidikan moral.

Baca Juga  Implementasikan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, SMPN 1 Padaherang Gelar Kokurikuler

“Pendidikan moral tidak cukup diajarkan lewat buku dan ceramah. Ia hidup dalam perilaku sehari-hari para pendidik. Ketika keteladanan goyah, pesan moral di kelas menjadi kehilangan makna,” ujar Irwan, Jumat (27/2/2026).

Ia menegaskan pentingnya tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah hingga ada hasil pemeriksaan dari pihak berwenang.

Dampak terhadap Pembentukan Karakter Siswa

Sejumlah pemerhati pendidikan menilai, isu yang berkembang luas berpotensi memengaruhi psikologis siswa. Pada fase remaja, peserta didik berada dalam tahap pencarian identitas dan relatif peka terhadap inkonsistensi antara nilai yang diajarkan dan perilaku yang ditampilkan.

Disonansi antara ajaran moral dan praktik personal pendidik dikhawatirkan mengganggu proses internalisasi nilai. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memunculkan skeptisisme terhadap otoritas moral dan mereduksi makna nasihat yang diberikan di ruang kelas.

Dalam konteks penguatan pendidikan karakter yang selama ini digaungkan pemerintah, keteladanan merupakan instrumen utama. Tanpa integritas figur pendidik, pendidikan moral berisiko tereduksi menjadi formalitas kurikulum.

“Pendidikan karakter tidak boleh berhenti pada slogan dan program seremonial. Ia harus hidup dalam sikap, perilaku, dan integritas para pendidik setiap hari,” kata Irwan.

Baca Juga  Peringati Hari Pengayoman ke 79, Lapas Banjar Gelar Pemeriksaan Kesehatan Gratis

Sorotan terhadap Respons Institusi

Perhatian publik kini juga tertuju pada langkah Dinas Pendidikan setempat yang menyatakan belum menerima laporan resmi terkait isu tersebut. Sejumlah kalangan menilai pendekatan proaktif dan transparan diperlukan untuk meredam spekulasi.

Apabila pihak yang bersangkutan berstatus aparatur sipil negara, mekanisme penegakan disiplin mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 94 Tahun 2021 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil. Namun proses itu harus berjalan objektif, profesional, serta tidak didasarkan pada opini publik semata.

Transparansi hasil pemeriksaan—baik dugaan terbukti maupun tidak—dinilai penting untuk memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi pendidikan.

Momentum Refleksi

Terlepas dari benar atau tidaknya dugaan yang beredar, peristiwa ini menjadi momentum refleksi bagi para pemangku kepentingan pendidikan. Pendidikan moral tak dapat dipisahkan dari integritas pribadi pendidik.

Sekolah merupakan ruang pembentukan generasi masa depan. Jika marwah moral di dalamnya tercederai, dampaknya bukan hanya pada individu, tetapi juga pada ekosistem pendidikan secara keseluruhan.

Di tengah derasnya arus informasi dan ekspektasi publik yang tinggi, dunia pendidikan dituntut bukan hanya cakap mentransfer ilmu, tetapi juga konsisten menjaga keteladanan. Sebab pada akhirnya, pendidikan moral bukan semata soal apa yang diajarkan, melainkan apa yang dicontohkan.

Johan Wijaya – DRY