Kata Opini

Ketika Remaja Terbawa Arus Radikalisme Digital

×

Ketika Remaja Terbawa Arus Radikalisme Digital

Sebarkan artikel ini

Katajurnalis.com.

Pagi itu langit Bandung tampak biasa saja, biru, cerah, menenangkan. Namun di ruang tamu sebuah rumah sederhana di pinggiran kota, seorang ayah menatap layar ponsel anaknya dengan wajah yang sulit diterjemahkan. Campuran marah, cemas, dan kaget berlapis-lapis.
“Ini… siapa yang kamu ajak bicara setiap malam?” tanyanya pelan.
Anak itu, siswa kelas IX yang tubuhnya masih ringkih, menunduk. Jemarinya saling meremas.
“Aku… nggak tahu, Ayah. Mereka bilang mau ngajarin keberanian.”
Ayah itu menarik napas panjang. Ia baru saja membaca berita bahwa Jawa Barat menjadi provinsi dengan jumlah anak terpapar radikalisme tertinggi di Indonesia. Data dari Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri menyebut peningkatan paparan terjadi drastis dalam satu dekade terakhir.
Dalam sebuah wawancara, Dedi Mulyadi berkata tegas,
“Siapa yang paling punya peran besar? Orang tualah yang pertama harus mengendalikan dan mengawasi media sosial anak-anaknya.”
Kata-kata itu seperti mengetuk jantung para orang tua, termasuk ayah ini.
Namun bagi sang ayah, hari itu bukan lagi sekadar membaca berita; ia menyaksikan sendiri bagaimana algoritma digital bisa menjemput seorang anak dengan lembut, tanpa suara, tanpa jejak.

“Pak, Kami Tidak Menyangka…”

Sore harinya, ia menemui wali kelas anaknya. Guru itu menatapnya dengan wajah letih.
“Pak,” ucap sang guru, “kami tidak menyangka. Anak-anak ini tampak baik-baik saja di sekolah. Di kelas, mereka sopan. Tidak ada tanda-tanda khusus.”
Ayah itu mengangguk.
“Semua berawal dari layar kecil itu… ya?”
Guru itu menatap meja.
“Betul, Pak. Dunia digital semakin lihai menyamar. Perekrutan tidak seperti dulu. Sekarang mereka masuk lewat game, komunitas daring, bahkan konten lucu.”
Dalam hati sang ayah berkecamuk. Ia tidak menyalahkan sekolah. Ia tahu guru-guru pun kewalahan mengimbangi perkembangan teknologi yang bergerak lebih cepat daripada kurikulum.
Di sisi lain, ia membaca bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Barat bahkan telah melarang siswa SMP membawa gawai ke sekolah. Langkah itu baik, meski tak selalu mudah dijalankan.
Namun petang itu, di ruang kecil sekolah negeri itu, ia menyadari bahwa ini bukan sekadar soal aturan—ini soal benteng moral, arah hidup, nilai yang menopang jiwa.

Baca Juga  Geothermal dan Amanah Manusia

Arus Deras yang Menggerus

Malamnya ia duduk sendiri, lampu temaram menyisakan bayang panjang di dinding.
Ia berbicara pada dirinya sendiri:
“Anakku percaya mereka ingin mengajarinya keberanian. Keberanian macam apa? Mengapa ia mudah tertarik?”
Ia kemudian mulai menyelami akar persoalan.
Ia sadar, tindak kekerasan yang lahir dari radikalisme digital bukan sekadar masalah teknis. Ini bukan sekadar salah algoritma atau konten. Masalah ini lahir dari sebuah tatanan besar—dunia modern yang terperangkap dalam sekularisme-kapitalisme. Teknologi tumbuh pesat, tetapi tumbuh tanpa pagar nilai.
Di sisi lain, negara, keluarga, dan sekolah sering hanya menutup lubang-lubang kecil dalam sistem besar yang rapuh ini.
Sang ayah bergumam,
“Kita menyalahkan anak, menyalahkan guru, menyalahkan internet… tapi adakah kita tengah menyalahkan arah dunia yang kita sendiri biarkan berjalan tanpa ruh?”

Dialog Sunyi dengan Jiwanya

Ia kemudian membuka mushaf kecil di rak buku.
Matanya berhenti pada ayat yang seolah memanggilnya, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…”(QS. At-Tahrîm [66]: 6)
Ayat itu seperti suara lembut namun tegas.
Seakan berkata: Jangan hanya mengawasi jari-jemari mereka di layar. Arahkan hati mereka. Bangun pendirian mereka. Bimbing jiwa mereka.
Ia menutup mushaf itu perlahan.
Kemudian ia teringat sabda Nabi saw.,“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ia tersenyum pahit.
“Pemimpin… ya, aku pemimpin bagi anakku. Tapi sudahkah aku memimpin dengan benar?”

Saat Kita Perlu Berhenti Sejenak

Beberapa hari kemudian, ia mengajak anaknya duduk di halaman rumah. Angin sore Bandung menyapu daun jambu di atas kepala mereka.
“Aku marah, tapi lebih banyak khawatir,” ujarnya.
Anak itu menunduk.
“Ayah bukan ingin melarang kamu main internet. Ayah cuma ingin kamu kuat. Kalau ada yang mengajakmu melakukan hal aneh, melawan negara, melawan aturan, atau melawan akal sehatmu… Ayah ingin kamu berani bilang tidak.”
Anak itu mengangguk pelan.
“Maafkan aku, Yah…”
Ayah itu menepuk bahunya.
“Kamu tidak salah. Kamu sedang tumbuh. Dunia ini rumit. Tapi kita bisa belajar bersama.”
Di momen itu sang ayah merasa, seandainya semua orang tua, sekolah, dan negara bergerak bersama. Bukan saling menyalahkan, mungkin tidak akan ada anak yang terseret dalam pusaran radikalisme digital.

Baca Juga  Sandiwara Genjatan Senjata dan Perdamaian Ala Amerika Serikat

Arah Besar yang Perlu Kita Bangun

Ia menyadari bahwa solusi tidak dapat berhenti pada pengawasan ponsel. Solusi tidak cukup dengan larangan gawai atau seminar tahunan.
Kita membutuhkan pendekatan sistemik:

  1. Keluarga harus menjadi benteng pertama dalam membangun akhlak, menanamkan nilai, mengajarkan keberanian moral.
  2. Sekolah perlu menguatkan pendidikan karakter dan spiritual, bukan sekadar menambah jam pelajaran.
  3. Negara harus hadir sebagai penjaga nilai yang membimbing generasi, bukan hanya regulator.
    Islam telah menawarkan pendekatan itu sejak lama: paradigma Islam kaffah yang bukan hanya memberi aturan, tetapi membangun peradaban.
    Rasulullah saw. mendidik generasi sahabat sebagai manusia berjiwa kuat. Para khalifah setelah beliau menjaga aqidah umat dengan penuh ketegasan dan kebijaksanaan. Mereka menghadirkan aturan sosial yang menuntun manusia pada kebaikan, bukan sekadar melarang.

Penutup: Di Balik Layar, Ada Jiwa yang Perlu Kita Selamatkan

Ketika malam tiba, sang ayah menatap anaknya yang tidur dengan damai.
Ia tahu perjuangannya belum selesai. Dunia digital terus berubah, tantangan terus datang.
Namun malam itu ia berbisik lirih,
“Selama aku menjadi ayahmu, aku akan menjaga jiwamu. Bukan hanya ponselmu.”
Karena sesungguhnya, di balik layar kecil itu, ada ruang sunyi tempat anak-anak kita mencari jati diri. Dan tugas kitalah memastikan mereka tidak menemukan tangan yang salah.

Penulis : Ummu Fahhala, S. Pd.
(Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi)