Kata Opini

Geothermal dan Amanah Manusia

×

Geothermal dan Amanah Manusia

Sebarkan artikel ini

Katajurnalis.com.

Pagi itu kabut menggantung di kaki Gunung Papandayan. Udara dingin menusuk pelan, seperti hendak memberi tanda bahwa alam sedang membuka percakapan. Saya berdiri di pinggir jalur bebatuan. Panas bumi mengepul dari celah tanah seolah ingin menyampaikan sesuatu.

“Lihat, Bu,” kata seorang warga, namanya Asep, sambil menunjuk ke arah kepulan uap. “Orang bilang ini masa depan energi Jawa Barat.”

Saya menatap asap putih itu. “Dan apa pendapat Kang Asep sendiri?”

Ia tersenyum tipis. “Saya hanya ingin anak-anak kami hidup lebih baik. Tapi saya juga ingin bumi tetap tenang.”

Kalimat itu menghantam batin saya. Sederhana. Jujur. Dalam. Dan sangat dekat dengan inti persoalan energi di negeri ini.

Energi Bersih dan Harapan yang Terus Tumbuh

Sebagai provinsi dengan penduduk terbesar dan industri yang padat, Jawa Barat memang memikul beban energi yang berat. Pemerintah sudah lama mendorong pengembangan panas bumi sebagai bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN). Harapannya jelas, ingin mempercepat transisi menuju energi rendah emisi dan memperkuat ketahanan energi nasional.

Saat membacanya, saya membayangkan percakapan dengan Kang Asep tadi. Ada optimisme. Ada kecemasan. Ada harapan yang menggantung. Orang biasa sepertinya bisa membaca kegelisahan yang sama, bahwa energi bukan hanya urusan listrik dan uap panas. Energi adalah urusan hidup.

Siang itu matahari muncul dari balik awan. Saya berjalan menyusuri jalur tanah bersama Kang Asep.

“Bu,” katanya pelan, “betulkah energi bersih benar-benar bersih?”

Saya tersenyum. “Secara teknologi, iya. Tapi setiap energi tetap bergantung pada cara manusia mengelolanya.”

Baca Juga  Amanah di Punggung Ciremai

Ia mengangguk. “Berarti bukan hanya tentang alatnya, Bu?”

“Betul,” jawab saya. “Ini tentang nilai. Tentang siapa yang memegang arah. Tentang untuk siapa energi ini dikelola.”

Kami berhenti di sebuah titik di mana tanah mengembuskan uap hangat. Suara bumi menguap pelan, seolah ikut menyimak obrolan kami.

“Kang,” kata saya, “bumi ini bisa memberi banyak. Tapi kalau manusia lupa amanah, bumi bisa menjadi saksi sedih.”

Ia menatap saya lama. “Amanah… ya, itu kata yang sering kami lupa.”

Ketika Potensi Tidak Cukup

Saya semakin yakin bahwa masalah energi bukan sekadar potensi teknis. Masalahnya terletak pada kerangka nilai yang mengatur. Energi bisa menjadi berkah jika dikelola sebagai amanah. Namun energi bisa berubah menjadi beban jika dikendalikan oleh kepentingan yang sempit.

Saya tidak ingin berpolemik atau menuduh siapa pun. Saya hanya ingin mengingatkan dengan jernih bahwa manusia harus berhati-hati ketika memegang sesuatu yang begitu besar.

Karena dalam paradigma apa pun, potensi bumi akan menjadi berbahaya jika manusia tidak jujur terhadap dirinya sendiri.

Islam Memandang Bumi sebagai Amanah

Islam menawarkan cara pandang yang membuat hati saya tenang. Islam mengajarkan bahwa sumber daya alam adalah amanah publik, bukan komoditas yang bebas diperjualbelikan kepada pemodal besar.

Rasulullah saw. bersabda, “Kaum muslimin berserikat dalam tiga perkara: air, padang rumput, dan api.” (HR Abu Dawud, no. 3477)

Kata “api” dipahami ulama sebagai seluruh bentuk energi. Artinya, sumber energi, termasuk geothermal adalah milik seluruh rakyat.

Baca Juga  Sandiwara Genjatan Senjata dan Perdamaian Ala Amerika Serikat

Allah Swt. berfirman, “Dan Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi…” (QS. Al-An’am: 165)

Ayat ini bukan sekadar pernyataan. Ayat ini adalah pesan cinta Tuhan kepada manusia, yakni kelola bumi dengan amanah, bukan dengan keserakahan.

Rasulullah saw. mempraktikkan konsep kepemilikan publik ini. Para khalifah setelah beliau melanjutkannya. Umar bin Khattab ra. menolak privatisasi padang gembalaan dan sumber-sumber air karena khawatir merugikan rakyat kecil. Mereka memahami bahwa alam tidak boleh jatuh ke tangan segelintir orang yang mengejar laba.

Prinsip itu membuat peradaban Islam mampu menjaga keseimbangan antara kemajuan dan keberlanjutan.

Penutup: Janji Bumi untuk Orang-Orang yang Menjaganya

Sore itu, sebelum pulang, saya menatap kembali kepulan uap dari perut bumi. Entah kenapa saya merasa bumi sedang berbisik.

“Katakan pada manusia,” seakan ia berkata, “aku siap memberi, selama kalian siap menjaga.”

Saya mengangguk pelan. Kang Asep, yang berdiri di samping saya, ikut mengangguk tanpa saya minta. Kami sama-sama merasakan pesan yang sama, meski tanpa kata.

Energi bersih memang masa depan. Namun masa depan itu baru benar-benar bersih jika manusia memegang amanah dengan jujur. Jika nilai-nilai yang menuntun kita adalah nilai yang memuliakan manusia dan menjaga bumi, bukan nilai yang mengubah alam menjadi komoditas belaka.

Di titik inilah, geothermal Jawa Barat bukan hanya cerita tentang uap panas dan listrik. Ia berubah menjadi cerita tentang manusia, amanah, harapan, dan janji bumi kepada siapa pun yang bersedia menjaganya.

Penulis : Ummu Fahhala, S.Pd.
(Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi)