Kata Budaya

Menjaga Ruh Ramadan di Tengah Bisingnya Media Sosial

×

Menjaga Ruh Ramadan di Tengah Bisingnya Media Sosial

Sebarkan artikel ini
Menjaga Ruh Ramadan di Tengah Bisingnya Media Sosial. Foto: Ilustrasi Gemini AI

Pangandaran, Katajurnalis.com.

Suasana Ramadan di kampung-kampung dahulu punya irama yang khas. Selepas azan Isya, anak-anak dan remaja berbondong-bondong ke surau, membawa mushaf, mengisi malam dengan tadarus hingga larut. Lantunan ayat suci bersahutan, membentuk harmoni yang menjadi penanda bulan suci.

Di sudut-sudut masjid, cahaya layar gawai lebih sering terlihat dibanding lembaran Al-Qur’an. Sebagian remaja masih datang ke masjid, tetapi tak sedikit pula yang lebih larut dalam linimasa media sosial. Fenomena inilah yang menjadi kegelisahan pimpinan Pondok Pesantren Riyadussalikin, KH Luthfi Fauzi.

Ditemui di lingkungan pesantren di Pangandaran, ia menyebut Ramadan sejatinya adalah “madrasah akhlak”—ruang pembinaan karakter yang intens dan penuh makna. Namun, tantangan zaman, menurutnya, tak lagi sederhana.

“Anak-anak hari ini lebih akrab dengan layar gawai daripada lembaran Al-Qur’an,” ujarnya suatu siang, dengan nada yang lebih mencerminkan keprihatinan daripada kemarahan.

Pergeseran yang Terasa Nyata

Perubahan itu, kata dia, terasa dalam beberapa tahun terakhir. Jika dahulu remaja berlomba mengkhatamkan Al-Qur’an dan memenuhi saf salat tarawih, kini sebagian justru lebih aktif membuat konten bertema Ramadan atau menghabiskan waktu dengan percakapan digital.

Baca Juga  Safari Budaya KDM Diguyur Hujan, Warga Kota Banjar Tetap Penuhi Taman Kota

Tarawih tetap berjalan. Tadarus masih terdengar. Tetapi intensitas dan partisipasinya, terutama dari kalangan remaja, tak lagi seramai dulu.

Meski begitu, KH Luthfi tak serta-merta menyalahkan teknologi. Baginya, gawai hanyalah alat.

“Bukan teknologinya yang salah. Tapi jika tidak dikendalikan, distraksi digital bisa menggerus ruh Ramadan,” tuturnya.

Di titik inilah, Ramadan diuji bukan hanya oleh lapar dan dahaga, tetapi oleh notifikasi tanpa henti.

Lebih dari Sekadar Seremoni

Ramadan, menurutnya, tak boleh berhenti pada seremoni ngabuburit, buka bersama, atau unggahan bernuansa religius. Puasa adalah latihan pengendalian diri, kesabaran, dan kejujuran. Nilai-nilai itu tak cukup dipelajari, melainkan harus dihidupkan.

Ia juga menyoroti menurunnya partisipasi remaja dalam salat tarawih berjamaah. Perubahan gaya hidup dan minimnya keteladanan di rumah menjadi faktor yang tak bisa diabaikan.

“Jika orang tua tidak memberi contoh, sulit mengharapkan anaknya aktif ke masjid. Keteladanan adalah kunci,” katanya.

Ramadan, dalam pandangannya, adalah ekosistem nilai. Ia membutuhkan dukungan keluarga, sekolah, dan masyarakat agar tetap menjadi ruang pembentukan karakter, bukan sekadar rutinitas tahunan.

Baca Juga  Hari Santri, Nasionalisme dan Moderasi dari Pondok

Ikhtiar dari Pesantren

Di lingkungan pesantren, pembinaan selama Ramadan dilakukan lebih intensif. Tadarus diperbanyak, kajian kitab digiatkan, dan para santri diberi edukasi tentang etika bermedia sosial.

Upaya itu bukan untuk menjauhkan mereka dari teknologi, melainkan membekali agar mampu menggunakannya secara bijak. Sebab zaman tak mungkin diputar kembali.

“Remaja bukan musuh zaman. Mereka hanya membutuhkan arahan dan pendampingan,” ujarnya.

Di tengah kekhawatiran itu, optimisme tetap terjaga. Setiap Ramadan, selalu ada remaja yang menjadikan bulan suci sebagai titik balik meninggalkan kebiasaan buruk, belajar istiqamah, dan menemukan kembali makna ibadah.

Barangkali, di antara riuh notifikasi dan derasnya arus informasi, Ramadan masih menyisakan ruang sunyi. Ruang tempat hati belajar kembali mendengar.

DRY