Banjar – katajurnalis.com.
Musim kemarau berdampak pada warga yang kesulitan air bersih lantaran sumber mata air mereka sudah beberapa bulan ini mengering. Sejak awal musim kemarau yang menyebabkan kekeringan, BBWS Citanduy disebut sudah menyalurkan 279 ribu liter air bersih untuk warga yang terdampak kekeringan.
BBWS Citanduy mencatat, terdapat 6 wilayah di dua provinsi yakni Kabupaten Tasikmalaya, Kota Tasikmalaya, Kabupaten ciamis, Kota Banjar, Kabupaten Pangandaran dan Kabupaten Cilacap Jawa Tengah yang mengalami krisis air bersih.
“Sejak awal kekeringan akibat kemarau panjang, kami sudah mendistribusikan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari warga di 6 wilayah,” ucap Kepala BBWS Citanduy, Roy Panagom Pardede melalui Kasatker OP, Andi Widyanto kepada katajrunalis.com, Minggu (16/8/2026).
Andi menambahkan, proses pendistribusian air bersih tersebut menggunakan beberapa truk dengan total 1730 tangki. Sementara jumlah desa sebanyak 23 wilayah di 15 kecamatan yang tersebar di 6 kota kabupaten.
“Setia pada permintaan kami langsung tanggapi dan mengerahkan truk tangki untuk pengiriman air bersih,” tambah Andi
BBWS Citanduy mendata, terdapat 8.134 kepala keluarga atau 14.296 jiwa di 6 wilayah yang terdampak kekeringan. Sumber mata air warga seperti sumur sudah mengering sejak pertengahan musim kemarau.
Selain penanganan kekeringan, BBWS Citanduy juga kini tengah gencar melakukan sosialisasi system gilir air untuk kebutuhan irigasi area pertanian. BBWS Citanduy melakukan langkah strategis untuk mengamankan pasokan air pertanian seluas 6.219 hektare yang membentang di wilayah Kabupaten Ciamis (4.741,72 Ha) dan Kota Banjar (1.477,65 Ha).
Berdasarkan pemetaan potensi kekeringan terbaru, terdapat beberapa areal persawahan yang rentan terdampak kekurangan air pada periode ini, di antaranya wilayah Biuk (611 Ha), Paniisan (567,54 Ha), Sindanghayu (473,01 Ha), dan Pondok Huni (397,90 Ha). Sementara itu, area seluas 4.169,92 Ha diproyeksikan aman dari ancaman kekeringan.
Agar produktivitas lahan pertanian tetap terjaga, BBWS Citanduy menetapkan kebijakan penggunaan Faktor K sebesar 70% dari suplai Bendungan Leuwikeris. Pertimbangan ini diambil agar debit air yang masuk ke saluran sadap dan areal persawahan tetap optimal dan mencukupi hingga bulan Agustus dan September.
“Kami akan terus melakukan penanganan kekeringan ini semaksimal mungkin hingga musim kemarau berlalu termasuk upaya menjaga ketahanan pangan melalui saluran irigasi yang terjaga pasokan airnya,” pungkas Andi.
Aditya TW






