Kata Berita

Angin Barat Mengurung Nelayan Pangandaran di Daratan

×

Angin Barat Mengurung Nelayan Pangandaran di Daratan

Sebarkan artikel ini
Angin Barat Mengurung Nelayan Pangandaran di Daratan. Foto: Ilustrasi Gemini AI/KJ

Pangandaran, Katajurnalis.com.

Angin barat masih meniup keras perairan selatan Pangandaran. Gelombang tinggi berulang kali memukul garis pantai Legokjawa, Kecamatan Cimerak, membuat laut yang biasanya ramai perahu nelayan mendadak lengang.

Sudah hampir sepekan sebagian besar nelayan memilih menambatkan perahunya di darat. Cuaca yang tak bersahabat membuat mereka menunda keberangkatan, menimbang risiko yang bisa mengancam keselamatan di tengah laut.

Bagi nelayan, laut yang sehari-hari menjadi sumber penghidupan dapat sewaktu-waktu berubah menjadi ancaman. Ombak tinggi, angin kencang, dan arus yang tak menentu membuat aktivitas melaut seperti perjudian dengan nyawa.

Namun kebutuhan hidup tak pernah berhenti menuntut. Pada Minggu pagi, sekitar sepuluh perahu nelayan tetap berangkat menuju laut lepas. Mereka mencoba menembus gelombang yang masih bergulung di perairan selatan.

Karli, nelayan asal Legokjawa, mengatakan cuaca buruk sudah berlangsung sekitar satu minggu. Menurut perkiraan, kondisi serupa masih berpotensi terjadi beberapa hari ke depan.

“Sudah seminggu ini cuaca kurang bagus. Katanya sampai besok masih ada kemungkinan angin dan ombak besar,” kata Karli belum lama ini.

Baca Juga  Guru Asal Ciamis Ditemukan Tewas di Pangandaran

Ia menjelaskan, situasi ini lazim terjadi saat musim angin barat. Biasanya berlangsung sekitar sepuluh hari. Namun nelayan justru lebih khawatir ketika musim angin timur tiba.

“Kalau angin barat biasanya sekitar sepuluh hari. Tapi kalau angin timur bisa sampai tiga bulan nelayan tidak bisa melaut,” ujarnya.

Ironisnya, pada saat cuaca sedang buruk seperti sekarang, perairan Legokjawa justru tengah dipenuhi ikan. Menurut Karli, tangkapan ikan tongkol sedang melimpah di perairan selatan.

“Ikan sebenarnya lagi bagus sekarang, banyak tongkol. Tapi sayang cuacanya tidak bersahabat,” kata dia.

Bagi nelayan kecil, memaksakan diri melaut dalam kondisi seperti ini bukan keputusan ringan. Ombak bisa saja menggulingkan perahu atau menyeretnya menjauh dari daratan.

“Risikonya besar. Bisa saja perahu terbalik atau kejadian lain di tengah laut,” ujar Karli.

Karena itu sebagian besar nelayan memilih menunggu hingga laut kembali tenang. Sambil menanti cuaca membaik, mereka mencari penghasilan seadanya di darat.

Ada yang menjadi buruh harian, membantu pekerjaan di kebun, memperbaiki jaring, atau melakukan pekerjaan apa saja yang bisa menghasilkan uang.

Baca Juga  Panik ! Angin Kencang Robohkan Tenda saat Ibu-ibu Ikuti Lomba di Pangandaran

“Sekarang mah seadanya saja, yang penting bisa cari makan buat anak dan istri,” tuturnya.

Bagi Karli dan nelayan lainnya, memaksakan diri melaut di tengah cuaca buruk bisa berujung fatal. Karena itu mereka memilih bersabar.

Cuaca buruk bukan hal baru dalam kehidupan nelayan. Dalam setahun, masa laut ganas dapat datang beberapa kali, kadang berlangsung berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.

Meski hidup dalam ketidakpastian, para nelayan tetap memandang laut dengan hormat. Laut bukan hanya sumber rezeki, tetapi juga ruang hidup yang harus dipahami ritmenya.

“Saat cuaca seperti ini kami memilih menunggu. Kami percaya setelah badai berlalu, laut akan kembali ramah,” pungkasnya.

DRY