Kata Berita

Dugaan Penipuan ASN Banjar Kembali Mencuat, Korban Mengaku Diminta Uang Berulang Kali

×

Dugaan Penipuan ASN Banjar Kembali Mencuat, Korban Mengaku Diminta Uang Berulang Kali

Sebarkan artikel ini

Banjar, Katajurnalis.com.

Dugaan praktik penipuan yang melibatkan seorang aparatur sipil negara di lingkungan Dinas Tenaga Kerja Kota Banjar kembali mencuat. Oknum berinisial E itu disebut meminta uang kepada warga dengan berbagai dalih, salah satunya terkait pengurusan kepulangan pekerja migran dari luar negeri.

Kesaksian terbaru datang dari Yati, warga Lingkungan Cikadu, Kelurahan Karangpanimbal. Ia mengaku beberapa kali dimintai uang oleh E dengan alasan membantu memulangkan anaknya, SW, yang bekerja secara ilegal di Brunei Darussalam.

Kasus SW sebelumnya sempat ramai diperbincangkan setelah video yang menunjukkan keinginannya pulang ke Indonesia beredar di media sosial.

Menurut Yati, E kerap datang ke rumahnya hampir setiap pekan selama beberapa bulan terakhir. Ia biasanya tiba sekitar tengah hari dan baru pulang menjelang sore.

“Dia (E,red) datang sekitar jam 12 siang dan bisa sampai jam 5 sore. Dia menunggu sampai saya memberikan uang,” kata Yati, Jumat, 6 Maret 2026.

Yati menuturkan, alasan yang disampaikan E beragam. Mulai dari biaya komunikasi dengan anaknya di Brunei hingga ongkos menghubungi pihak yang disebut dapat membantu proses pemulangan.

Dalam setiap kunjungan, E disebut meminta uang dengan nominal berbeda-beda, mulai dari Rp150 ribu hingga Rp1 juta. Permintaan itu berlangsung berulang kali selama beberapa bulan.

Baca Juga  Bupati Bogor Pastikan Tak Ada Korban Insiden Asap di Area Tambang Antam Nanggung

Yati juga mengatakan, selama berada di rumahnya, E kerap meminta disuguhi minuman.

“Dia suka minta minuman yang enak. Sekali datang bisa habis beberapa gelas,” ujarnya.

Pada kesempatan lain, E juga sempat meminta uang dengan alasan sepeda motornya mengalami kecelakaan dan perlu diperbaiki. Permintaan itu tidak dipenuhi.

Permintaan terbesar, menurut Yati, muncul ketika E menyebut diperlukan biaya untuk memulangkan SW dari Brunei. Saat itu, E meminta uang hingga Rp20 juta. Setelah Yati menyatakan tidak sanggup, nominal tersebut disebut turun menjadi Rp14 juta.

“Saya bingung harus mencari uang dari mana. Kami hanya mengandalkan penghasilan suami dari berkebun,” kata Yati.

Ia mengaku terpaksa meminjam uang dari sejumlah kerabat dan tetangga. Yati bahkan tidak lagi dapat menghitung total uang yang telah ia keluarkan.

Persoalan itu, kata dia, juga berdampak pada kondisi keluarganya. Suaminya sempat jatuh sakit sebelum akhirnya meninggal dunia.

“Suami saya jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia,” ujarnya.

Setelah kejadian itu, E disebut jarang lagi datang ke rumahnya, terutama setelah adik ipar Yati memarahi oknum tersebut karena terus meminta uang. Hingga kini, anak Yati yang berada di Brunei belum juga pulang ke Indonesia.

Baca Juga  Candu Judi Online, Oknum Satpam Ciamis Rampok Ojol Disabilitas

“Sampai sekarang anak kami belum juga pulang,” kata Yati.

Ia juga mengungkapkan, E pernah membujuk anak laki-lakinya untuk menggadaikan sertifikat rumah agar dapat bekerja ke luar negeri melalui jalur yang ditawarkan.
Rencana itu ditolak keluarga.

Menurut Yati, ada pula warga lain yang diduga mengalami hal serupa.

“Ada temannya di Jelat yang sudah menyerahkan Rp15 juta, tapi sampai sekarang belum juga berangkat,” ujarnya.

Kesaksian Yati menambah daftar dugaan kasus yang menyeret nama E. Sebelumnya, oknum ASN tersebut juga disebut tengah menunggu sanksi dari pemerintah daerah terkait dugaan penyelewengan dana santunan kematian ahli waris senilai Rp187 juta.

Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kota Banjar, Egi Ginanjar, mengatakan E sebelumnya pernah dijatuhi sanksi disiplin atas pelanggaran saat bertugas.

“Yang bersangkutan pernah dijatuhi hukuman disiplin. Beberapa tahun lalu juga sempat terseret dalam dugaan penipuan terkait rekrutmen CPNS,” kata Egi.

Menurut Egi, pemerintah daerah masih menunggu perkembangan laporan terbaru yang menyeret nama oknum tersebut.

Sementara itu, sejumlah pihak yang mengaku menjadi korban tengah mempertimbangkan untuk melaporkan kasus tersebut secara resmi kepada kepolisian.

Andriansyah