Ciamis, katajrunalis.com.
Musim kemarau yang terus berlanjut mulai berdampak signifikan terhadap ketersediaan sumber air di perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Debit air Sungai Citanduy di Bendung Manganti tercatat menyusut drastis.
Kondisi ini memaksa pengelola bendung menerapkan pola giliran pembagian air demi mengairi lebih dari 27 ribu hektare lahan pertanian di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, hingga Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.
Akibat penurunan debit air yang signifikan, pihak Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citanduy tidak dapat membuka seluruh pintu air irigasi secara bersamaan. Untuk memastikan air tetap menyebar, petugas terpaksa memberlakukan sistem penggiliran distribusi air antar wilayah
“Saat ini memang benar akibat kondisi kemarau bendung Manganti mengalami penyusutan, oleh sebab itu kita memanfaatkan seefisien dan semaksimal mungkin untuk bisa mengairi daerah irigasi Manganti yang merupakan irigasi untuk dua provinsi yaitu wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah,” kata Kepala BBWS Citanduy, Roy Panagom Pardede kepada katajurnalis.com, Senin (27/7/2026).

Lebih lanjut Roy mengatakan distribusi air untuk kebutuhan lahan pertanian akan disesuaikan dengan kondisi masa tanamnya. Bila menjelang masa panen, pasokan air akan dikurangi dan dialihkan ke area pertanian lain yang membutuhkan.
“Tentu saja kita mencatat pertumbuhan tanam padi yang kita upayakan agar tidak fuso atau gagal panen tapi semakin bertambahnya umur tanaman padi tentu saja kebutuhan air akan berkurang,” tambah Roy.
Penerapan sistem gilir ini berfokus pada penyelamatan tanaman padi yang sedang memasuki masa pertumbuhan agar tidak mengalami gagal panen (fuso). Di wilayah Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Kabupaten Ciamis, Kota Banjar dan Kabupaten Pangandaran di Jawa Barat.
Para petani diminta untuk menghemat penggunaan air dan memanfaatkan pompa air tambahan jika memungkinkan. Hingga kini pihak BBWS Citanduy terus memantau kondisi tinggi muka air dan berkoordinasi dengan dinas pertanian daerah setempat.
Imbauan juga disampaikan kepada para petani agar menyesuaikan pola tanam dan mengoptimalkan manajemen air di tingkat kelompok tani selama puncak musim kemarau berlangsung.
Jika kekeringan berlanjut hingga beberapa bulan kedepan, koordinasi lintas daerah antara Pemprov Jawa Barat dan Pemprov Jawa Tengah akan ditingkatkan guna memprioritaskan titik-titik persawahan yang paling kritis terancam krisis air.
Aditya TW






