Ciamis, katajurnalis.
Musim kemarau panjang menyebabkan sumber mata air warga seperti sumur mengering. Akibatnya ratusan jiwa di Desa Margajaya, Kecamatan Pamarican kini mengalami krisis air bersih untuk kebutuhan Mandi, Cuci dan Kakus (MCK).
Bahkan Masjid Raudhatul Huda yang terletak di samping kantor desa, kini terpaksa harus membeli air untuk memenuhi kebutuhan wudhu jamaahnya. Menurut Ketua DKM dalam sepekan pihaknya harus membeli satu toren air seharga Rp 120 ribu untuk kebutuhan jamaah masjid.
“Setiap waktu sholat terdapat kurang lebih 25 hingga 30 jamaah, jadi kami terpaksa harus beli air untuk wudhu dan kebutuhan hadas lainnya,” kata Ketua DKM Raudhatul Huda, Abdul Aziz Muslim kepada katajurnalis.com, Kamis (27/8/2026).
Abdul Aziz berharap pihak terkait bisa rutin memberikan bantuan air bersih agar jamaah masjid tidak berkurang. Selain untuk kebutuhan sholat berjamaah, area masjid Raudhatul Huda tersebut juga terdapat madrasah.
Setiap hari puluhan siswa menggunakan air untuk mengaji dan sholat berjamaah. Salah satu pengurus madrasah menyebut, kapasitas air yang dibeli tidak bisa mencukup kebutuhan madrasah.
“Kadang dalam dua hari sudah habis dan harus beli lagi, tapi Alhamdulillah ada warga yang bersedekah membelikan air untuk kebutuhan masjid dan madrasah,” ucap salah satu pendidik madrasah Diniyah, Rukaesih.
Kondisi serupa juga dialami oleh warga RT 6, RW 1, Dusun Cimarga, Desa Margajaya yang terpaksa harus membeli air bersih untuk MCK sebesar Rp 3 ribu per jerigen. Pengeluaran tambahan tersebut belum termasuk membeli air untuk minum dan memasak.

“Sudah lebih dari 1 bulan ini kami setiap dua hari beli air dan pemakaiannya harus irit supaya tidak sering beli,” ungkap Dewi.
Baik DKM, Madrasah dan warga berharap bantuan air bersih bisa rutin dilakukan setiap hari. Bahkan warga lebih menginginkan bantuan sumur bor agar musim kemarau nanti mereka tidak kembali mengalami krisis air bersih.
Aditya TW






