Kata Berita

Kiai di Pangandaran: Bangunkan Sahur Ibadah, Tapi Jangan Resahkan Warga

×

Kiai di Pangandaran: Bangunkan Sahur Ibadah, Tapi Jangan Resahkan Warga

Sebarkan artikel ini

Pangandaran, Katajurnalis.com.

Tradisi membangunkan sahur di sejumlah wilayah Kabupaten Pangandaran kembali menuai sorotan. Sejumlah remaja memilih cara instan dengan menggeber knalpot brong di jalanan pada dini hari selama Ramadan.

Alih-alih mendapat apresiasi, aksi tersebut justru memicu keluhan warga. Suara bising yang memecah kesunyian malam dinilai melampaui batas kewajaran dan tak lagi mencerminkan semangat kebersamaan dalam bulan suci.

Beberapa warga mengaku terganggu, terutama mereka yang memiliki anggota keluarga lanjut usia, anak kecil, maupun yang sedang sakit. Kebisingan kendaraan bermotor pada jam istirahat disebut meresahkan dan berpotensi membahayakan keselamatan pengguna jalan.

Menanggapi fenomena itu, Pimpinan Pondok Pesantren Riyadussalikin Pangandaran, KH Luthfi Fauzi, menegaskan bahwa membangunkan sahur pada dasarnya merupakan amalan baik dan bagian dari syiar Islam. Namun, cara pelaksanaannya tetap harus memperhatikan adab serta tidak menimbulkan mudarat bagi orang lain.

“Membangunkan sahur itu ibadah. Tapi kalau caranya dengan kebisingan, ugal-ugalan di jalan, apalagi sampai membahayakan, itu bukan lagi kebaikan. Ramadan mengajarkan ketenangan dan akhlak,” ujar Luthfi, Senin (2/3/2026).

Baca Juga  Menuju KUA Lebih Dekat dan Solutif, Cimerak Matangkan Program Unggulan Ramadan

Menurut dia, penggunaan knalpot brong tak hanya berpotensi melanggar aturan lalu lintas, tetapi juga mengganggu kenyamanan masyarakat. Ia mengingatkan bahwa niat baik tidak bisa dijadikan pembenaran atas tindakan yang merugikan pihak lain.

Luthfi menilai semangat anak muda dalam meramaikan Ramadan patut diapresiasi. Namun, energi tersebut perlu diarahkan pada kegiatan yang lebih bermanfaat dan terorganisasi agar tak menimbulkan dampak negatif.

Ia menyarankan sejumlah alternatif yang dinilai lebih santun, seperti menggunakan kentongan secara tertib, menggelar ronda sahur dengan pengawasan, atau memanfaatkan pengeras suara masjid dengan volume wajar. Cara-cara tersebut dianggap lebih mencerminkan nilai kebersamaan dan kepedulian sosial.

“Kalau niatnya baik, caranya juga harus baik. Jangan sampai ingin dapat pahala, tapi justru menimbulkan dosa karena mengganggu orang lain,” katanya.

Lebih jauh, ia mengajak orang tua, tokoh masyarakat, serta aparat setempat untuk berperan aktif melakukan pembinaan. Pendekatan persuasif dan edukatif, menurut dia, lebih efektif dibandingkan sekadar menyalahkan atau memberi stigma kepada generasi muda.

“Anak muda itu energinya besar. Tugas kita membimbing supaya energi itu menjadi amal kebaikan, bukan sumber masalah,” ujarnya.

Baca Juga  Kemenag Kanwil Jabar Gelar Rukyatul Hilal di Pos Observasi Bulan Lapas Kelas 2 Kota Banjar

Ia berharap Ramadan tahun ini dapat dijalani dengan suasana yang tertib, aman, dan penuh keberkahan. Fenomena kebisingan sahur ini, menurutnya, menjadi refleksi bersama bahwa meramaikan Ramadan bukan berarti menciptakan kegaduhan, melainkan menghadirkan ketenangan dan empati terhadap sesama.

Agus Giantoro – DRY