Kata Berita

BBWS Citanduy Gandeng Aparat Penegak Hukum Gelar Monev P3-TGAI 2026

×

BBWS Citanduy Gandeng Aparat Penegak Hukum Gelar Monev P3-TGAI 2026

Sebarkan artikel ini
BBWS Citanduy Gandeng Aparat Penegak Hukum Gelar Monev P3-TGAI 2026

CIAMIS – KATAJURNALIS.COM. Dalam upaya memastikan pelaksanaan Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) Tahun Anggaran 2026 berjalan secara transparan, akuntabel, dan sesuai standar teknis yang ditetapkan, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citanduy menggelar kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) secara maraton selama tiga hari berturut-turut, yakni pada 28, 29, hingga 30 Juli 2026.

Sebaran lokasi terdapat di Jawa Barat sebanyak 17 titik di wilayah Tasikmalaya dan Ciamis. Sementara terdapat 56 lokasi di wilayah Cilacap, Jawa Tengah. Kegiatan pengawasan ini menjadi bukti nyata komitmen pemerintah dalam mengawal proyek infrastruktur berbasis pemberdayaan masyarakat sektor pertanian.

Langkah strategis tersebut diambil guna memastikan seluruh alokasi anggaran dan pembangunan fisik sarana irigasi perdesaan benar-benar memberikan dampak nyata bagi peningkatan produktivitas pertanian, kesejahteraan petani lokal, serta mendukung kedaulatan dan ketahanan pangan nasional.

“Program P3-TGAI ini merupakan salah satu program unggulan pemerintah sehingga kami perlu melakukan pengawasan ketat,” ucap Kepala BBWS Citanduy, Roy Panagom Pardede kepada katajrunalis.com.

Roy menyebut monev tersebut melibatkan Aparat Penegak Hukum (APH) demi pengawasan ketat dan transparansi serta akuntabilitas sebagai fondasi utama. Pelibatan APH ini bertujuan untuk memperkuat fungsi pengawasan pencegahan, memastikan seluruh regulasi terpenuhi, serta mencegah potensi penyimpangan tata kelola di lapangan.

Dengan hadirnya unsur APH dan instansi terkait, pelaksanaan kegiatan Monev diharapkan tidak sekadar menjadi formalitas administratif semata, melainkan menjadi sarana evaluasi yang komprehensif, jujur, dan mendalam. Pengawasan melekat ini memberikan jaminan keandalan hukum dan transparansi dalam pengelolaan anggaran negara yang dialokasikan bagi kesejahteraan petani.

“Monev ini kami lakukan bersama APH demi menjaga kualitas sekaligus evaluasi untuk memberikan jaminan bagi kesejahteraan petani,” tambah Roy.

Selama tiga hari pelaksanaan pelaksanaan monev, tim gabungan turun langsung ke lokasi pembangunan jaringan irigasi yang tersebar di wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah yang masuk dalam wilayah sungai Citanduy.

Baca Juga  Polres Banjar Garap 40 Hektare Lahan Jagung untuk Ketahanan Pangan

Adapun tiga fokus utama dalam kegiatan monitoring dan evaluasi ini meliputi peninjauan perkembangan pekerjaan Lapangan dengan persentase realisasi fisik di lapangan berjalan sesuai dengan jadwal serta target waktu yang telah direncanakan sejak awal.

Berikutnya adalah memastikan kualitas konstruksi sesuai spesifikasi teknis. Pemeriksaan ketat dilakukan terhadap material bangunan, dimensi jaringan irigasi, campuran adukan semen, mutu pasangan batu, hingga ketahanan struktur bangunan irigasi. Hal ini penting agar infrastruktur yang dibangun memiliki daya tahan jangka panjang dan aman digunakan oleh petani.

Sementara tim gabungan juga melakukan evaluasi administrasi pelaksanaan swakelola P3-TGAI secara terperinci. Pemeriksaan pembukuan keuangan, pelaporan pertanggungjawaban, nota belanja material, hingga absensi pengerjaan tenaga kerja lokal.

Pemberdayaan Masyarakat Lewat Skema Swakelola P3A

Program P3-TGAI memiliki karakteristik khusus yang membedakannya dengan proyek infrastruktur konvensional. Program ini dirancang dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat tani secara langsung melalui skema swakelola yang dikerjakan oleh Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A).

Melalui skema swakelola ini, para petani tidak hanya bertindak sebagai penerima manfaat, tetapi juga berperan langsung sebagai perencana, pelaksana, sekaligus pengawas pembangunan jaringan irigasi di wilayah desa mereka sendiri.

Pola padat karya tunai ini terbukti memberikan dampak ganda yang signifikan sebagai wujud

Penguatan Ekonomi Perdesaan : Menyerap tenaga kerja lokal dan memberikan tambahan penghasilan bagi petani serta warga sekitar di luar musim tanam.

Rasa Memiliki (Sense of Ownership) : Karena dibangun oleh tangan mereka sendiri, para petani memiliki rasa tanggung jawab dan kepedulian yang lebih tinggi untuk merawat serta menjaga keberlanjutan fungsi sarana irigasi tersebut di masa depan.

Peningkatan Kapasitas Kelembagaan Petani : P3A dilatih untuk mengelola kegiatan tata guna air dan administrasi kelompok secara mandiri dan profesional.

Komitmen BBWS Citanduy : Prinsip “Tepat Mutu, Tepat Waktu, Tepat Sasaran”

Melalui hasil monitoring dan evaluasi yang komprehensif ini, BBWS Citanduy kembali menegaskan komitmen mulianya untuk terus mengawal pelaksanaan P3-TGAI TA 2026 agar memenuhi tiga pilar utama keberhasilan program:

Baca Juga  Geger Katanya Ada Warga Terjun di Jembatan Cirahong, Polisi dan BPBD Ciamis Sisir Sungai Citanduy

Tepat Mutu: Infrastruktur irigasi dibangun dengan standar spesifikasi teknis terbaik, kokoh, tahan lama, dan mampu mengalirkan air secara optimal hingga ke lahan persawahan paling ujung.

Tepat Waktu : Seluruh tahapan pelaksanaan pengerjaan fisik diselesaikan sesuai jadwal yang telah ditentukan agar air irigasi dapat segera dimanfaatkan menyambut musim tanam berikutnya.

Tepat Sasaran : Lokasi penerima bantuan P3-TGAI benar-benar menyasar kawasan pertanian produktif yang membutuhkan perbaikan atau peningkatan saluran irigasi, serta dikelola oleh kelompok P3A yang aktif dan terverifikasi.

Memperkuat Ketahanan Pangan Nasional dan Kesejahteraan Petani

Air merupakan urat nadi utama dalam sektor pertanian. Saluran irigasi yang tertata rapi dan berfungsi optimal akan menjamin kepastian pasokan air ke lahan persawahan. Hal ini secara langsung berkontribusi pada peningkatan Indeks Pertanaman (IP), memperluas areal tanam, dan meminimalkan risiko gagal panen akibat kekeringan.

Pihak BBWS Citanduy menyampaikan bahwa keberhasilan program P3-TGAI ini diharapkan dapat memicu lonjakan produktivitas hasil panen padi dan komoditas pangan lainnya di wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah. Dengan produktivitas yang meningkat, pendapatan dan kesejahteraan petani pun otomatis ikut terangkat.

Secara makro, peningkatan produktivitas di tingkat daerah ini menjadi pilar pendukung utama dalam memperkuat ketahanan pangan nasional menuju kemandirian pangan Indonesia yang tangguh.

Kegiatan monitoring dan evaluasi P3-TGAI TA 2026 ini diharapkan menjadi momentum krusial bagi BBWS Citanduy, APH, dan seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan bahwa setiap rupiah anggaran negara yang dialokasikan dengan benar serta memberikan manfaat nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat bawah.

Dengan Sinergi yang kuat antara BBWS Citanduy, Aparat Penegak Hukum, pemerintah daerah, dan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A), pelaksanaan P3-TGAI TA 2026 optimis mampu mencapai target yang diharapkan: irigasi bagus, petani sejahtera, dan pangan melimpah.

Aditya TW