Ciamis- katajurnalis.com
Dampak musim kemarau mulai dirasakan di Kabupaten Ciamis. Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) BPBD Kabupaten Ciamis, sedikitnya 2 kecamatan, 10 dusun, dan 1.062 Kepala Keluarga terdampak kekeringan dan membutuhkan droping air bersih.
Data rekapitulasi BPBD Ciamis menyebutkan, wilayah yang terdampak tersebar di Kecamatan Banjarsari dan Banjaranyar. Total volume air bersih yang telah didistribusikan mencapai 50.000 liter.
“Wilayah yang terdampak kekeringan dan membutuhkan air bersih di Ciamis sudah kami petakan. Tahun 2026 ini ada 2 kecamatan dengan 10 dusun yang menjadi prioritas droping air,” kata Kalak BPBD Ciamis, Ani Supiani kepada katajurnalis.com, Jumat (24/7/2026).
Rincian Wilayah Terdampak
1. Kecamatan Banjarsari
Wilayah ini menjadi salah satu daerah paling terdampak dengan total kebutuhan air 20.000 liter. Desa yang terdampak antara lain:
– Desa Kawungsari – Dusun Panarung RT 25,26,27,28 RW 7 dengan 208 jiwa terdampak. Kebutuhan air 5.000 liter
– Desa Cibadak – Dusun Sumanding RT 25,29,11,17 RW 7,8 dengan 35 jiwa terdampak. Kebutuhan air 2.500 liter
– Desa Banjaranyar – Dusun Cidadap RT 3,4,5 RW 5 dengan 128 jiwa terdampak. Kebutuhan air 5.000 liter
2. Kecamatan Banjaranyar
Kecamatan ini mencatat kebutuhan air terbesar yakni 30.000 liter. Desa terdampak meliputi:
– Desa Banjaranyar – Dusun Bukitsitu RT 1,2,3,4 RW 6 dengan 250 jiwa terdampak. Kebutuhan air 10.000 liter
– Desa Cigayam – Dusun Punyokasari RT 1,3 RW 4 dengan 96 jiwa terdampak. Kebutuhan air 5.000 liter
– Desa Cikaso – Dusun Cikaso RT 16,11,14,15 RW 4,2 dengan 20 jiwa terdampak. Kebutuhan air 5.000 liter
Total keseluruhan, BPBD mencatat terdapat 2.797 jiwa yang terdampak di 10 dusun dari 2 kecamatan tersebut.
Upaya Penanganan BPBD
BPBD Kabupaten Ciamis saat ini terus melakukan monitoring dan droping air bersih ke wilayah-wilayah prioritas. Bantuan air bersih disalurkan bekerja sama dengan pemerintah desa, TNI, Polri, dan relawan.
Kepala Pelaksana BPBD Ciamis mengimbau masyarakat untuk menghemat penggunaan air dan segera melaporkan jika ada wilayah yang mengalami krisis air bersih. BPBD Ciamis juga telah menyiapkan skenario antisipasi agar dampak kekeringan tidak meluas.
“Kami minta masyarakat ikut hemat air. Jika ada sumur yang mulai kering atau kesulitan air, segera koordinasi dengan BPBD atau pemerintah desa agar bisa segera ditangani,” tambah Ani.
Sementara itu Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis prakiraan musim kemarau tahun 2026. Hasil analisis dinamika atmosfer dan model prediksi iklim menunjukkan bahwa musim kemarau tahun ini berpotensi datang lebih awal, berlangsung lebih panjang, dan bersifat lebih kering dibanding kondisi normal.
Berdasarkan analisis BMKG, sekitar 93% wilayah Indonesia diprakirakan mengalami kondisi lebih kering dari normal. Beberapa wilayah yang perlu diwaspadai meliputi :
1. Jawa : Pantura Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur
2. Bali, NTB, NTT : Hampir seluruh wilayah
3. Sulawesi Selatan : Bagian selatan dan tenggara
4. Sumatera bagian selatan : Lampung dan Sumatera Selatan
Aditya TW






