Kata Berita

Antisipasi Karhutla, Warga Padaherang Inisiatif Pasang Baliho Imbauan

×

Antisipasi Karhutla, Warga Padaherang Inisiatif Pasang Baliho Imbauan

Sebarkan artikel ini

Pangandaran – katajurnalis.com.

Dampak musim kemarau panjang tahun 2026 mulai dirasakan secara nyata oleh warga di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Fenomena kekeringan ini tidak hanya melanda wilayah dataran rendah atau pesisir, melainkan juga telah merambah ke wilayah dataran tinggi serta kawasan pegunungan.

Kondisi tersebut ditandai dengan mengeringnya rumput, semak belukar, serta dedaunan di area perkebunan dan kawasan hutan warga. Cuaca terik yang dipadu dengan tiupan angin kencang membuat material organik yang mengering tersebut sangat mudah terbakar, sehingga meningkatkan risiko terjadinya Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).

Menyikapi ancaman lingkungan yang kian mengkhawatirkan tersebut, sebuah aksi nyata lahir dari kepedulian warga lokal. Salah seorang tokoh masyarakat di Dusun Sapu Angin, Desa Karangsari, Kecamatan Padaherang, mengambil langkah proaktif dengan memasang papan imbauan di sejumlah titik rawan pada Senin (10/08/2026).

Aksi tanggap tersebut dipelopori oleh Sarnyu Sunarya, seorang tokoh masyarakat lokal yang juga menjabat sebagai Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Karangsari sekaligus Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Hegarsari 2 Dusun Sapu Angin (wilayah RT 25/26 RW 13, Desa Karangsari, Kecamatan Padaherang).

Demi melindungi kampung halamannya dari petaka kebakaran, Sarnyu merogoh kocek pribadi untuk merancang dan membuat papan pengumuman berupa baliho imbauan bahaya kebakaran hutan dan lahan. Baliho tersebut memuat pesan tegas: “Stop dan Cegah Kebakaran Hutan dan Lahan”.

Papan imbauan tersebut dipasang secara strategis di lokasi-lokasi yang kerap dilalui warga dan berdampingan langsung dengan area rawan, seperti persimpangan jalan kampung, akses jalan desa, serta area yang berbatasan langsung dengan perkebunan dan hutan milik warga.

“Musim kemarau ini lahan sudah mulai mengalami kekeringan drastis. Sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan dan hutan, saya berinisiatif untuk saling mengingatkan serta mengimbau warga kami, khususnya di Dusun Sapu Angin yang memiliki lahan hutan maupun perkebunan kering,” ujar Sarnyu Sunarya saat ditemui di lokasi pemasangan, Senin (10/08/2026).

Baca Juga  Unik, Pos Pelayanan di Pangandaran Berkonsep Kearifan Lokal di Kawasan Wisata

Sarnyu menegaskan, kebiasaan-kebiasaan kecil yang kerap dianggap sepele oleh masyarakat dapat menjadi pemantik bencana besar di tengah kondisi cuaca ekstrem seperti saat ini.

“Saya mengimbau warga untuk sama sekali tidak membakar sampah sembarangan dan tidak membuang puntung rokok yang masih menyala secara terburu-buru di area kebun atau hutan. Gesekan material kering dan api sekecil apa pun sangat berisiko memicu kebakaran hebat,” tambahnya.

Sarnyu membeberkan bahwa salah satu wilayah di Desa Karangsari, yakni Blok Tonjong, memiliki histori kelam terkait musibah kebakaran saat kemarau panjang menghantam kawasan tersebut pada tahun-tahun sebelumnya.

Langkah proaktif yang dilakukan warga mendapatkan perhatian dan dukungan penuh dari pihak pemerintah kecamatan. Camat Padaherang, Agus Gumilar mengarahkan perhatian pada kondisi lapangan yang kian memprihatinkan di seluruh wilayah kerja Kecamatan Padaherang.

Menurut Agus, fenomena kekeringan memicu penumpukan semak belukar kering yang melimpah di wilayah pegunungan dan perbukitan Padaherang. Kondisi ini seperti “bahan bakar gratis” yang siap tersulut kapan saja jika terkena percikan api.

“Kekeringan hutan dan lahan di wilayah Padaherang, terutama di kawasan pegunungan, memang sudah mulai terlihat jelas. Banyak semak dan vegetasi yang mengering total, sehingga sangat rentan dan mudah terbakar,” ungkap Agus Gumilar saat memberikan konfirmasinya.

Menanggapi situasi tanggap darurat lingkungan ini, Camat Padaherang mengeluarkan imbauan tegas kepada seluruh lapisan masyarakat di wilayahnya untuk menjaga perilaku harian.

“Saya mengingatkan secara khusus kepada seluruh warga Padaherang: Stop, jangan sekali-kali membakar sampah di ruang terbuka dan jangan membuang puntung rokok di dekat semak yang kering. Tindakan kelalaian kecil bisa berisiko memicu kebakaran besar yang meluas dan sulit dikendalikan,” tutur Agus mengimbau.

Baca Juga  Satu Dekade Program JKN, BPJS Kesehatan Gelar Media Workshop

Ancaman kebakaran hutan dan lahan tidak bisa dipandang sebelah mata. Dampak yang ditimbulkan oleh Karhutla sangat multidimensi, merusak ekosistem sekaligus mengancam mata pencaharian warga lokal.

Secara material, kebakaran perkebunan warga dapat menghanguskan tanaman produktif seperti kayu albasia, jati, kelapa, hingga tanaman komoditas pertanian lainnya. Hal ini memicu kerugian finansial yang signifikan bagi para petani yang menggantungkan hidupnya pada hasil kebun. Selain itu, hilangnya tutupan vegetasi mengancam habitat satwa lokal dan memicu erosi tanah saat musim hujan tiba nanti.

Di luar kerugian materiil, dampak paling berbahaya dari Karhutla adalah ancaman langsung terhadap kesehatan masyarakat. Asap pekat hasil pembakaran hutan mengandung partikel berbahaya (PM2.5), karbon monoksida (CO), serta senyawa beracun lainnya.

  • Gangguan Pernapasan: Paparan asap tebal secara terus-menerus dapat memicu timbulnya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), asma, serta iritasi mata dan kulit.
  • Kelompok Rentan: Anak-anak, balita, serta lansia menjadi kelompok yang paling rentan terdampak buruk oleh penurunan kualitas udara akibat asap Karhutla.

Upaya Preventif dan Kesiapsiagaan Menghadapi Kemarau Panjang

Guna mengantisipasi dampak kemarau jangka panjang yang diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan, sinergi antara warga, tokoh masyarakat, dan pemerintah daerah sangat diperlukan. Langkah pencegahan yang disuarakan di Padaherang diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi kecamatan-kecamatan lain di wilayah Kabupaten Pangandaran.

Pemerintah daerah mengimbau warga untuk segera melaporkan kepada aparat desa, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), atau pemadaman kebakaran terdekat jika menemukan titik api sekecil apa pun di kawasan hutan dan perkebunan, guna mencegah titik api berkembang menjadi kebakaran berskala besar.

Wawan Hermawan – ATW